Selasa, 22 November 2011

ISTIFHAM



         Pada hakikatnya tafsir merupakan sebuah proses dan produk pemikiran terhadap al Qur’an. Dalam menafsirkan suatu ayat al Qur’an, seorang mufasir memerlukan beberapa disiplin ilmu. Hal tersebut bertujuan untuk meminimalisir kesalahan dalam penafsiran ayat al Qur’an.  Diantara disiplin ilmu yang diperlukan ialah ilmu bahasa (nahwu, sharaf, balaghah), ushul fiqh, asbabun nuzul, nasikh wa mansukh dan ilmu pendukung lainnya. Dalam ilmu bahasa yang paling urgen untuk dipahami ialah tentang beberapa kaidah nahwu yang dapat membantu memahami teks melalui pendekatan bahasa. Salah satunya ialah kaidah istifham yang terdapat dalam al Qur’an.
            Tak sedikit ayat al Qur’an yang menanyakan tentang sesuatu yang bersifat khusus atau pun umum. Sedangkan kata yang digunakan sebagai kata tanya ada beberapa macam. Makna yang terkandung pun bisa bermacam-macam. Oleh karena itu kiranya sangat diperlukan penjabaran tentang kaidah istifham dalam al Qur’an agar ayat-ayat tersebut dapat dipahami sesuai dengan tujuan ayat tersebut turun. Wallahu a’lam

A.     Pengertian Istifham
Istifham berasal dari bahasa Arab, masdar dari kata istafhama yang berarti istaudhaha. Akar katanya adalah fahima yang berarti faham, mengerti, jelas. Akar kata ini mendapat tambahan alif, sin dan ta’ di awal kata yang salah satu fungsinya adalah untuk meminta. Dengan demikian itu berarti permintaan penjelasan (thalabul fahmi).[1] Sedangakan secara istilah, istifham menurut Al Zarkasi adalah mencari pemahaman tentang suatu hal yang tidak diketahui.[2] Selain itu, istifham juga bisa dikatakan merupakan bentuk kalimat yang dipergunakan untuk mendapatkan informasi yang jelas tentang suatu masalah yang belum diketahhui sebelumnya.[3]
B.     Adawatul Istifham (Kata Tanya)
            Sebagaimana kaidah-kaidah bahasa Arab lainnya, istifham juga memiliki Adawat (adat-adat) sebagai ciri khas yang dapat membedakannya dengan kaidah lainnya.
 Adawatul istifaham terbagi menjadi dua kategori, yaitu
1.      Huruf istifham berupa hamzah dan hal yang artinya apakah.
a.        Huruf hamzah, digunakan untuk menanyakan tentang apa atau siapa yang jawabannya memerlukan : ya atau tidak. Selain itu untuk menghadapi atau memberikan pengertian kepada orang yang ragu-ragu atau mendustakan.
Contoh:
|MRr&uä |Mù=è% Ĩ$¨Z=Ï9 ÎTräσªB$# uÍhGé&ur Èû÷üyg»s9Î) `ÏB Èbrߊ «!$# ( tA$s% y7oY»ysö6ß $tB ãbqä3tƒ þÍ< ÷br& tAqè%r& $tB }§øŠs9 Í< @d,ysÎ/ ...
…Engkaukah yang berkata kepada orang: Sembahlah aku dan ibuku sebagai Tuhan selain Allah?” Ia berkata, “Maha suci Engkau! Tidak sepatutnya aku mengatakan apa yang bukan menjadi hakku… (QS. Al Maidah: 116)
b.      Lafal hal adalah kata tanya untuk konfirmasi, yang memerlukan jawaban : ya atau tidak. Bisa juga digunakan untuk pengingkaran dan maknanya adalah menafikan kalimat sesudahnya. Contoh:
ö@yd 4tAr& n?tã Ç`»|¡SM}$# ×ûüÏm z`ÏiB ̍÷d¤$!$# öNs9 `ä3tƒ $\«øx© #·qä.õ¨B ÇÊÈ  
Bukankah sudah berlalu pada manusia masa yang panjang dari waktu ketika dia bukan apa-apa (bahkan) tidak disebut-sebut? (QS. Al Insan: 1)
2.      Isim istifham berupa ma (apa), man (siapa), kaifa (bagaimana), mata (kapan), ayyana (bilamana), anna (dari mana), kam (berapa), aina (di mana), ayyu (apa, siapa).
a.       Lafal ma (apa), digunakan untuk menanyakan sesuatu yang tak berakal. Atau  untuk menuntut definisi hakikat yang ditanyakan. Contoh:
$tB óOä3x6n=y Îû ts)y ÇÍËÈ   (#qä9$s% óOs9 à7tR šÆÏB tû,Íj#|ÁßJø9$# ÇÍÌÈ  
Apa yang membawa kamu ke dalam api neraka?” Mereka berkata, “Kami tak termasuk golongan orang yang shalat”. (QS. Al Muddatstsir: 42- 43)
øŒÎ) tA$s% ÏmŠÎ/L{ ¾ÏmÏBöqs%ur $tB ÍnÉ»yd ã@ŠÏO$yJ­G9$# ûÓÉL©9$# óOçFRr& $olm; tbqàÿÅ3»tã ÇÎËÈ  
(Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: "Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?" (QS. Al Anbiya: 52)

b.      Lafal man (siapa), digunakan untuk menanyakan makhluk berakal. Contoh:
`¨B #sŒ Ï%©!$# ÞÚ̍ø)ム©!$# $·Êös% $YZ|¡ym ¼çmxÿÏ軟ÒãŠsù ÿ¼ã&s! $]ù$yèôÊr& ZouŽÏWŸ2 ...
Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak… (QS. Al Baqarah: 245)
c.       Lafal kaifa (bagaimana), digunakan untuk menanyakan keadaan sesuatu. Contoh:
y#øx.ur tbrãàÿõ3s? öNçFRr&ur 4n=÷Fè? öNä3øn=tæ àM»tƒ#uä «!$# öNà6ŠÏùur ¼ã&è!qßu 3 ...
Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu… (QS. Ali Imran: 101)
d.      Lafal mata (kapan), digunakan untuk menanyakan waktu, baik yang lampau maupun yang akan datang. Contoh:
4ÓtLtB uqèd ( ö@è% #Ó|¤tã br& šcqä3tƒ $Y6ƒÌs% ÇÎÊÈ   
…"Kapan itu (akan terjadi)?" Katakanlah: "Mudah-mudahan waktu berbangkit itu dekat". (QS. Al Isra’: 51)
e.       Lafal ayyana (bilamana), digunakan untuk menanyakan sesuatu berkenaan dengan waktu mendatang. Contoh:
ã@t«ó¡o tb$­ƒr& ãPöqtƒ ÏpyJ»uŠÉ)ø9$# ÇÏÈ  
Ia berkata: "Bilakah hari kiamat itu?" (QS. Al Qiyamah: 6)
f.        Lafal anna (dari mana), digunakan untuk menanyakan asal usul. Contoh:
tA$s% Éb>u 4¯Tr& Ücqä3tƒ Í< ÖN»n=äî ÏMtR$Ÿ2ur ÎAr&tøB$# #\Ï%%tæ ôs%ur àMøón=t/ z`ÏB ÎŽy9Å6ø9$# $|ÏFÏã ÇÑÈ  
Ia berkata: "Ya Tuhanku, bagaimana akan ada anak bagiku, padahal isteriku adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua." (QS. Maryam: 8)
g.       Lafal kam (berapa), digunakan untuk menanyakan jumlah atau bilangan.
Contoh:
tA$s% öNŸ2 |M÷VÎ7s9 ( tA$s% àM÷VÎ7s9 $·Böqtƒ ÷rr& uÙ÷èt/ 5Qöqtƒ ( tA$s% @t/ |M÷VÎ7©9 sps($ÏB 5Q$tã ...
…"Berapakah lamanya kamu tinggal di sini?" Ia menjawab: "Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari." Allah berfirman: "Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya…" (QS. Al Baqarah: 259)
h.       Lafal aina (dari mana), digunakan untuk menanyakan tempat. Contoh:
( tûøïr'sù tbqç7ydõs? ÇËÏÈ      
maka ke manakah kamu akan pergi ? (QS. At Takwir: 26)
i.         Lafal ayyu (apa, siapa), digunakan untuk menanyakan apa atau siapa. Contoh:
r'sù Èû÷üs)ƒÌxÿø9$# ,ymr& Ç`øBF{$$Î/ ( bÎ) ÷LäêZä. šcqßJn=÷ès? ÇÑÊÈ  
…Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak memperoleh keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui? (QS. Al An’am: 81)
C.     Makna Istifham
            Istifham seperti yang dijabarkan di atas merupakan pengungkapan yang memiliki bermacam makna bergantung pada siyaqul kalamnya.[4] Diantaranya yaitu:
a)      Untuk pengingkaran dan maknanya adalah untuk menafikan kalimat sesudahnya. Karena itulah pertanyaan ini dapat diikuti oleh Illa (إلا ), seperti Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam QS. Al-Ahqaf: 35
b)      Untuk menjelekkan. Sebagian ulama memasukkan hal ini ke dalam bagian pengingkaran. Tetapi yang pertama berupa pengingkaran untuk membatalkan dan yang kedua adalah pengingkaran untuk menjelekkan, seperti Firman Allah Ta’ala dalam QS. Fathir: 37
c)      Membawa pendengar untuk menetapkan dan menyetujui sesuatu hal yang telah terjadi padanya, seperti Firman Allah Ta’ala dalam QS. Adl-Dluha :6-7
d)      Untuk takjub dan membuat takjub, seperti dalam QS. Al-Baqarah:28
e)      Untuk menyindir, seperti Firman Allah Ta’ala dalam QS. At-Taubah:43
f)        Untuk memberikan peringatan. Firman Allah Ta’ala QS. Yaasiin:60
g)      Untuk membanggakan diri, seperti dalam QS. Az-Zukhruf:51
h)      Untuk membesar-besarkan, seperti dalam QS. Al-Kahfi:49
i)        Untuk menakut-nakuti, seperti QS. Al-Qari’ah:1-2
j)        Untuk memudahkan dan meringankan, seperti dalam QS. An-Nisaa:39
k)      Untuk memberikan ancaman, seperti dalam QS. Al-Mursalat:16
l)        Untuk membuat banyak, seperti dalam QS. Al-A’raf:4
m)    Untuk membuat sama, yaitu: suatu pertanyaan yang masuk kepada sebuah kalimat yang dapat digantikan dengan mashdar, seperti Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam QS. Al-Baqarah:6
n)      Untuk memerintahkan, seperti dalam QS. Ali Imran:20
o)      Untuk memberi peringatan, seperti dalam QS. Al-Furqan:45
p)      Untuk menumbuhkan kecintaan, seperti dalam QS. Al-Baqarah:245
q)      Untuk larangan, seperti dalam Qs. At-Taubah:13
r)       Untuk do’a. dan ini seperti larangan, tetapi do’a itu (bertingkat-tingkat) dari yang lebih rendah kepada yang lebih tinggi, seperti dalam QS. Al-A’raf:155
D.    Kesimpulan
            Istifham dalam al Qur’an memiliki adawat (adat-adat) sebagai ciri khas yang membedakannya dengan kaidah lain. Yaitu ditandai dengan huruf hamzah, lafal hal, ma, man, kaifa, mata, ayyana, anna, kam, aina, ayyu. Adapun makna dari ungkapan istifham bisa bermacam-macam bergantung pada siyaqul kalamnya. Sedangkan tujuan dari kaidah istifham dalam ilmu tafsir adalah untuk memberikan pengertian kepada para pendengar dan memiliki pengetahuan untuk menafikan atau menetapkan suatu ayat Al-Qur’an.


[1] Muhammad Chirzin, Al Qur’an dan Ulumul Qur’an (Yogyakarta: PT Dana Bhakti Prima Yasa, 1998), hlm. 177.
                [2] Muhammad Chirzin, Al Qur’an dan Ulumul Qur’an, hlm. 177.
                [3] Rahimah, Ilmu Balaghah Sebagai Cabang Ilmu Bahasa Arab (Sumatera Utara: USU digital library, 2004), hlm. 13.
                [4] Muhammad Chirzin, Al Qur’an dan Ulumul Qur’an, hlm. 181-182.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar