Minggu, 11 Desember 2011

"Dakwah Baru"


Bagi umat Islam, kata dakwah mungkin sudah tidak asing lagi. Ketika muncul kata dakwah maka yang langsung tergambar dalam pikiran adalah sebuah kegiatan yang isinya hanya mendengar ceramah agama yang disampaikan oleh pendakwah. Pendakwah sekarang ini pun sudah tak mengedepankan ilmu yang didalaminya tapi hanya dicukupkan dengan “keberanian berbicara”. Kenapa dibilang dengan “keberanian berbicara”? karena telah diketahui bersama bahwasannya mereka tidak mendalami ilmu-ilmu yang wajib dikuasai oleh seorang pendakwah terlebih itu menyangkut agama yang tak boleh asal-asalan dalam memberikan pendapat. Dilihat dari background mereka yang notabene bukan seorang yang secara khusus mengkaji Islam sebagai contoh mengusai Bahasa Arab, ilmu ushuluddin, dan yang lainnya.
Dalam memberikan ulasan tentang agama hendaknya para pendakwah tak hanya menyajikan satu pendapat saja akan tetapi menyuguhkan beberapa pendapat. Hal tersebut sebagai upaya untuk meminimalisir fanatisme terhadap salah satu pendapat dan agar tidak ada lagi judgment hitam-putih benar-salah.
Dakwah Baru
Meminjam kata dari azyumardi Azra, setelah lahirnya “orientalisme baru”, “intelektual baru” maka perlu kiranya kita lahirkan “dakwah baru”. Melihat kondisi masyarakat yang sekarang ini maka dakwah tak boleh hanya berhenti pada pemberian ceramah agama tapi perlu wujud nyata dalam kehidupan sehari-hari. Karena agama tak mungkin lepas dari berbagai sendi kehidupan tiap individu.
"Dakwah baru" ini juga diharapkan mampu melahirkan sikap saling memahami dan menghargai perbedaan baik itu sesama muslim maupun dengan non muslim. Sehingga dengan pemahaman yang demikian maka tak akan ada lagi dengung-dengung terorisme yang selalu dikaitkan dengan permusuhan antara umat muslim dan umat kristiani.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar